JAKARTA — Aliansi BEM Persatuan Indonesia mengajak seluruh mahasiswa dan masyarakat menjadikan momentum September Hitam sebagai ruang refleksi untuk mengingat sejumlah peristiwa kelam dan catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang pernah terjadi dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Momentum September Hitam dinilai penting untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat sekaligus menjadi pembelajaran agar berbagai persoalan terkait HAM tidak kembali terulang di masa mendatang.
Aliansi BEM Persatuan Indonesia menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk terus menyuarakan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, demokrasi, dan supremasi hukum. Namun, penyampaian aspirasi tersebut harus tetap dilakukan dengan mengedepankan kedamaian, ketertiban, serta kepentingan masyarakat luas.
“September Hitam harus menjadi momentum untuk mengingat dan melakukan refleksi. Perjuangan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan merupakan bagian dari tanggung jawab mahasiswa, tetapi harus disampaikan dengan cara yang damai, tertib, dan bermartabat,” demikian sikap Aliansi BEM Persatuan Indonesia.
Aliansi juga mendorong agar berbagai persoalan pelanggaran HAM masa lalu dapat terus dituntaskan melalui mekanisme hukum dan institusi negara yang berwenang. Proses penyelesaian tersebut diharapkan mengedepankan keadilan, transparansi, penghormatan terhadap korban dan keluarga korban, serta memberikan kepastian hukum.
Menurut Aliansi BEM Persatuan Indonesia, kebebasan menyampaikan pendapat merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial.
Karena itu, mahasiswa dan masyarakat diimbau tidak menjadikan momentum September Hitam sebagai ruang untuk melakukan provokasi, kekerasan, perusakan fasilitas umum, maupun tindakan lain yang dapat menimbulkan keresahan dan mengganggu keamanan serta ketertiban masyarakat.
Aliansi BEM Persatuan Indonesia juga mengajak seluruh elemen mahasiswa untuk mengedepankan dialog, jalur hukum, serta mekanisme demokratis dalam menyampaikan tuntutan dan kritik. Dalam setiap kegiatan penyampaian aspirasi, mahasiswa diharapkan tetap menghormati hak masyarakat lain serta menjaga komunikasi yang baik dengan seluruh pihak, termasuk aparat keamanan.
“Menjaga Kamtibmas dan kondusivitas bukan berarti menghilangkan sikap kritis mahasiswa. Justru sikap kritis harus ditunjukkan dengan cara yang bertanggung jawab, damai, dan tidak merugikan masyarakat,” tegas Aliansi.
Aliansi BEM Persatuan Indonesia berharap peringatan September Hitam dapat menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama terhadap penghormatan HAM, demokrasi, supremasi hukum, dan persatuan bangsa.
Bagi Aliansi, mengingat berbagai peristiwa kelam masa lalu bukanlah upaya untuk membuka luka tanpa arah, melainkan bagian dari ikhtiar agar bangsa Indonesia dapat belajar dari sejarah dan membangun masa depan yang lebih baik.
“Mari rawat ingatan, perjuangkan keadilan, dan tetap jaga Indonesia agar aman, damai, serta kondusif.”
Aliansi BEM Persatuan Indonesia. /*ADR












